Selasa, 14 Desember 2010

Produk Unggulan Bima

Tembe Nggoli 

Tembe Nggoli adalah sarung tenun tangan khas Bima, dibuat dari benang kapas (katun), dengan warna-warni yang cerah dan bermotif khas sarung tenun tangan. 
Keistimewaanya Tembe Nggoli antara lain:
* Hangat
* Halus dan lembut
* Tidak mudah kusut
* Warna cemerlang lebih lama 

Saat ini, Tembe Nggoli sudah diproduksi dalam berbagai macam corak dan motif. Ada yang 'biasa' (untuk dipakai sehari-hari), dan ada pula yang istimewa yang hanya dipakai pada acara-acara resmi. 

Bagi orang Bima, memakai sarung lazim dilakukan baik oleh kaum pria maupun wanita. Wanita Bima memakai sarung sebagai 'bawahan', bahkan masih ada yang menggunakan dua buah sarung, yang disebut "rimpu". Rimpu adalah cara wanita Bima menutup aurat bagian atas dengan sarung sehingga hanya kelihatan mata atau wajahnya saja. Rimpu yang hanya kelihatan mata disebut "rimpu mpida". 

Cara memakai sarung antara pria dan wanita berbeda. Bagi kaum pria, sarung dipakai seperti layaknya kaum pria di Indonesia lainnya, yaitu digulung ketat pada perut/pinggang, yang disebut "katente". Bagi kaum wanita, sarung tidak digulung melainkan dilipat dan diselipkan (dijepit agar tidak terlepas), yang disebut "sanggentu". Selain itu perbedaan juga terletak pada posisi "bali" (yaitu bagian sarung yang diberi warna/motif berbeda, biasanya ditaruh pada bagian belakang ketika dipakai). Bagi kaum pria, 'bali' diletakkan agak ke kanan, sedangkan bagi kaum wanita 'bali' diletakkan agak ke kiri. Pemahaman tentang letak 'bali' ini menunjukkan tingkat pengetahuan pemakai sarung, atau menunjukkan ketelitiannya dalam berpakaian. 

Masyarakat Bima juga menggunakan sarung sebagai selimut ketika tidur. Masyarakat yang tradisional bahkan tidak pernah atau tidak suka menggunakan selimut yang biasa, tetapi lebih nyaman menggunakan sarungnya yang hangat. 

Kini, sarung Bima atau Tembe Nggoli banyak dijadikan koleksi atau oleh-oleh khas dari Bima. 

Sumber : data base kab.bima, www.bimacenter.com 



Mutiara Alam Bima

Mutiara bukan hanya suatu keindahan yang selalu diimpikan oleh setiap wanita, akan tetapi juga merupakan komoditas unggulan perikanan budidaya yang perlu ditingkatkan produksinya. Karena hampir seluruh produksinya ditujukan untuk diekspor keluar negeri. Saat ini para pembeli mutiara Indonesia di Jepang telah banyak yang mengetahui bahwa mutiara tersebut berasal dari Indonesia, sehingga akan lebih baik bila membeli secara langsung dari Indonesia. Peningkatan produksi yang dicapai saat ini, dinilai cukup besar. Selama periode 2005-2009 produksi mutiara diharapkan meningkat dari 12 ton pada tahun 2005 menjadi 18 ton pada tahun 2009. 

Memang pengembangan usaha budidaya mutiara masih banyak mengalami hambatan baik yang bersifat teknis maupun non teknis. Walaupun saat ini kondisi keamanan dapat dikatakan lebih kondusif, tetapi masih sulit bagi perusahaan budidaya mutiara yang telah hancur untuk bangkit kembali. 

Untuk membangkitkan kembali usaha budidaya mutiara sekaligus menciptakan iklim usaha yang kondusif, pada TA 2003 melalui dana dekonsentrasi telah dialokasikan dana untuk penguatan modal bagi kelompok pembudidaya kerang mutiara KUB Bangket Segara Lauq di Kab. Lombok Timur-NTB sebesar Rp 500 juta, berupa pengadaan sarana budidaya dan produksi termasuk benih kerang mutiara. Kegiatan in dilanjutkan lagi pada tahun 2004 dengan dana sebesar Rp. 450 Mutiara juta, dengan penerima bantuan yangsama. Hal ini dilakukan agar dampak pengembangan usaha budidaya mutiara oleh KUB Bangket Segara Lauq dapat dilihat lebih nyata. Sedangkan pembinaan teknisnya dilakukan oleh Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Pantai (BPBPP) Sekotong. 

Dilihat dari ukuran kerang mutiara yang dibudidayakan menunjukkan perkembangan yang cukup bagus. Baik yang dilakukan dengan dana penguatan modal TA. 2003 maupun TA 2004. Disamping itu terlihat adanya kemitraan usaha antara pemasok benih dengan KUB. Melalui kegiatan ini diharapkan agar masyarakat yang semula hanya merupakan "Penonton", dapat memiliki usaha sendiri sekaligus mengamankan lokasi tersebut dari penjarahan. 

Untuk mengevaluasi keberhasilan sekaligus menginventarisir permasalahan dalam pelaksanaan kemitraan, serta mempertemukan langsung perusahaan/ UPT pensuplai benih dengan kelompok pembudidaya, pada pertengahan Mei 2005 lalu, di NTB telah diselenggarakan Temu Kemitraan Usaha Budidaya Mutiara, yang dihadiri oleh wakil-wakil dari Ditjen. PK2P Ditjen. Perikanan Budidaya, Dinas Perikanan dan Kelautan Prov. NTB, Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Lombok Timur, Kab. Lombok Barat, Kab. Sumbawa, Kab. Dompu dan Kab. Bima, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), PT. Bank NTB, BPBPP Sekotong, Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) Sumbawa Barat, Loka Budidaya Laut Lombok, Perusahaan Budidaya Mutiara di Prov. NTB dan KUB Bangket Segara Lauq. 

Perkembangan kemitraan
Kemitraan Usaha Budidaya Mutiara di NTB yang telah dilakukan pada tahun 2000 di Kab. Sumbawa dan Kab. Lombok Barat untuk pengadaan sarana budidaya didanai oleh DanaAlokasi Khusus (DAK), dengan bimbingan teknis dilakukan oleh PT. Selat Alas dan PT. Sima Mutiara. Kemitraan usaha di Kab.Bima dilakukan oleh PT. Bima Sakti Mutiara secara swadaya. Tetapi Kemitraan Usaha ini tidak berkelanjutan, disebabkan pola kemitraan usaha yang belum mantap, sedangkan di Kab. Bima sampai saat ini masih berlang-sung. 

Sedangkan untuk Kab. Lombok Timur dimulai pada tahun 2003 dan dilanjutkan pada tahun 2004 melalui dana dekonsentrasi untuk penguatan modal KUB Bangket Segara Lauq yang terdiri dari 50 orang pembudidaya, yang juga merupakan pembudidaya kerapu dan lobster, bermitra dengan PT. Selat Alas, PT. Budidaya Mutiaratama dan PT. Buana Gemilang Hamparan Mutiara (BGHM). 

Kegiatan ini dilanjutkan pada tahun 2005 yang merupakan bagian dari kegiatan Program Budidaya Pedesaan (BUPEDES), dilakukan dalam bentuk pembelian benih kerang mutiara, teknologi insersi inti dan penampungan kerang mutiara serta pemasaran biji mutiara. Benih diperoleh dari PT. Budidaya Mutiaratama, PT. Selat Alas, BPBPP Sekotong sebanyak 13.000 ekor dan kerang mutiara dari alam sebanyak 500 ekor. 

Hingga saat ini stock kerang mutiara sebanyak 80 ekor ukuran 1 - 3 cm, 6.258 ekor ukuran 5-8 cm dan 1.000 ekor kerang mutiara ukuran 8-12 cm yang sudah diinsersi dan diperkirakan akan panen pada bulan Juni - Juli 2006. 

Untuk memantapkan kemitraan usaha, dalam kesem-patan ini telah dilakukan penan-datanganan Nota Kesepahaman antara : KUB dengan PT Selat Alas, PT Budidaya Mutiaratama sebagai pemasok benih kerang mutiara; KUB dengan LBL Lombok dan BPBPP Sekotong dalam penyediaan benih, pendampingan teknologi budidaya mutiara dan pembinaan SDM, dan KUB dengan PT. BGHM yang menampung kerang mutiara, insersi inti dan pemasaran biji mutiara. 

Harapan
Dengan pertemuan ini, diharapkan adanya upaya yang mampu mendorong peningkatan perkembangan budidaya mutiara di Indonesia, yang antara lain: pembebasan PPn 10 % kerang dan biji mutiara; sertifikasi mutu biji mutiara dan penerapan Surat Keterangan Asal (SKA). Perlunya peningkatan akses pasar melalui lobby perdagangan luar negeri untuk penguatan promosi (branding), Market intelligence dan penguatan image bahwa South Sea Pearl (SSP) adalah mutiara asli Indonesia serta fasilitas pemasaran mutiara melalui penyelenggaraan lelang nasional. 

Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Dikutip dari http://www.dkp.go.id/content.php?c=2357

Makanan Khas Bima

Tumi Sepi (Tumis Udang Rebon) Sepi adalah makanan khas Bima yang terbuat dari udang rebon (anak udang yang sangat kecil yang di Bima disebut Sepi Bou). Udang rebon difermentasi dengan garam saja sehingga mengeluarkan aroma khas. Bahan-bahan yang dibutuhkan * 2 sendok makan Sepi * 1 ruas jari lengkuas * 1 lembar sereh * 2 genggam kemangi * 1 sendok makan minyak goreng * 100ml air Bumbu-bumbu (Semuanya diiris-iris) * 10 butir bawang merah * 5 siung bawang putih * 1 buah tomat ukuran besar * 7 buah belimbing sayur * 5 buah cabe keriting * 1-15 buah cabe rawit biarkan utuh * Garam secukupnya * Gula pasir ½ sendok teh Cara Membuatnya * Panaskan minyak, tumis semua bumbu yang sudah diiris masukkan daun sereh dan lengkuas setelah harum masukkan Sepi, garam secukupnya dan gula pasir, masukkan 100ml air, * aduk-aduk terus hingga matang. * Sebelum diangkat masukkan cabe rawit dan kemangi biarkan cabe rawit layu setelah itu angkat. * Siap dihidangkan dengan lalaban. * Cocok dihidangkan bersama sayur asam atau sayur bening. SEPI bisa juga dikonsumsi langung tanpa dimasak terlebih dahulu. Tambahkan cabe rawit (potong-potong) dan air jeruk purut, lebih sedap bila kulit jeruk purut diiris-iris dicampurkan dengan SEPI (sebelumnya jeruk purut dimemarkan dulu untuk membuang rasa getir). Atau juga bisa dicampurkan dengan mbohi dungga (sambal parado). Mangge Mada (Gulai Jantung Pisang) Bahan-bahan yang dibutuhkan * 1 buah jantung pisang kepok * 1 genggam kelapa parut (sangrai lalu dihaluskan) * 1 gelas santan kental dari 1 kelapa * 300gr udang (rebus tampa air, buang kulit dan kepalanya) * 1 butir jeruk nipis (ambil airnya) Bumbu-bumbu (potong-potong sesuai selera) * 5 buah cabe keriting * 7 butir bawang merah * 5 buah belimbing wuluh * Garam secukupnya Cara Membuatnya * Siangi jantung pisang (ambil bagian putihnya) * Rebus sampai matang, angkat dan tiriskan, dipotong-potong lalu diperas (buang air getirnya) * Campurkan dengan potongan cabe, bawang merah, belimbing dan kelapa gongseng serta garam. * Masukkan santan dan air jeruk nipis, * terakhir masukkan udang yang sudah direbus. *Udang dapat digantikan dengan : Cumi atau Ikan Pari yang dipindang atau Cingur Sapi/Kulit yang dibakar terlebih dahulu*Uta Mbeca Ro'o Parongge (Sayur Daun Kelor) Bahan-bahan yang dibutuhkan * 3 ikat daun kelor (sebagai patokan: ikatan daun katuk) * 1 genggam tauge pendek * 1 ikat kangkung * 5 butir bamea (Okra, jenis sayuran banyak terdapat di Timur Tengah dan Pakistan) * 5 butir bawang merah (potong-potong) * 1 batang tamu kunci (potong-potong) * 2 liter air Bumbu-bumbu * Garam secukupnya * Gula secukupnya * Penyedap rasa sedikit bila suka Cara Membuatnya * Siangi daun kelor (rontokkan daunnya), kangkung dipotong sepanjang 2cm, bamea dipotong-potong sepanjang 1cm. * Campur dan cuci semua bahan-bahan kecuali bamea dicuci tersendiri. * Rebus dua liter air sampai mendidih, masukkan semua bahan kecuali okra yang dimakkan setelah beberapa menit untuk menghindari agar okra tidak terlalu berlendit. * Masukkan garam dan gula secukupnya, masak terus sampai sayur matang. * Angkat dan hidangkan dengan uta puru dan sambal dhocho mange. 
Daftar Makanan Khas Bima Lainnya 

Sumber : www.bimacenter.com

Ntumbu (Adu Kepala)

Salah satu budaya bima yang masih bertahan dan terus dikembnangkan adalah adu kepala. Buaya dan sekalugus keseniaan ini berlokasi di Kecamatan Wawo Kabupaten Bima. Tradisi yang sudah berumur sama dengan keberadaan daerah bima ini tidak sembarang orang dapat memainkannya. Hal ini karena perlu dipelajari secara serius dan mendalam melalui seorang guru. Sehingga tidak heran, hanya terdiri dari beberapa orang saja yang mampu memerankan tradisi tersebut. Belum lama ini digelar budaya adu kepala di halaman Kantor Bupati Bima dan mendapat prehatian luas dari masyarakat, termasuk turis manca negara.

Seni dan Budaya

Pacoa Jara (Pacuan Kuda) 
Pacuan Kuda atau dalam bahasa Bima disebut “Pacoa Jara” tampaknya makin marak di Bima. Paling tidak pacuan kuda diselenggarakan 2 kali setahun, yaitu pada hari-hari besar seperti Hari Proklamasi (Agustus) dan Hari Pemuda (Oktober). Pacuan kuda ini dilaksanakan dalam bentuk kejuaraan, bahkan melibatkan juga peserta dari daerah lain, Dompu, Sumbawa, hingga dari Lombok. Yang menarik, hadiah bagi jawara pacuan kuda ini tidak sedikit, sehingga banyak peminatnya. Hadiah pertama antara lain sebuah sepeda motor + sepasang anak sapi + hadiah lainnya. Setiap peserta membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 150.000,- Jika ternyata kalah dan keluar, peserta yang penasaran bisa mendaftar lagi. Nah, untuk satu periode pacuan, jumlah pendaftar ini bisa mencapai 800 hingga 1000 peserta! Selain di Panda, arena pacuan ada juga di kota Bima dan di Sila.
  

Sejarah Bima


Kabupaten Bima berdiri pada tanggal 5 Juli 1640 M, ketika Sultan Abdul Kahir dinobatkan sebagai Sultan Bima I yang menjalankan Pemerintahan berdasarkan Syariat Islam. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Bima yang diperingati setiap tahun. Bukti-bukti sejarah kepurbakalaan yang ditemukan di Kabupaten Bima seperti Wadu Pa’a, Wadu Nocu, Wadu Tunti (batu bertulis) di dusun Padende Kecamatan Donggo menunjukkan bahwa daerah ini sudah lama dihuni manusia. Dalam sejarah kebudayaan penduduk Indonesia terbagi atas bangsa Melayu Purba dan bangsa Melayu baru. Demikian pula halnya dengan penduduk yang mendiami Daerah Kabupaten Bima, mereka yang menyebut dirinya Dou Mbojo, Dou Donggo yang mendiami kawasan pesisir pantai. Disamping penduduk asli, juga terdapat penduduk pendatang yang berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa, Madura, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur dan Maluku. 

 
Kerajaan Bima dahulu terpecah –pecah dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing dipimpin oleh Ncuhi. Ada lima Ncuhi yang menguasai lima wilayah yaitu : 
1. Ncuhi Dara, memegang kekuasaan wilayah Bima Tengah 

2. Ncuhi Parewa, memegang kekuasaan wilayah Bima Selatan 

3. Ncuhi Padolo, memegang kekuasaan wilayah Bima Barat 

4. Ncuhi Banggapupa, memegang kekuasaan wilayah Bima Utara 

5. Ncuhi Dorowani, memegang kekuasaan wilayah Bima Timur. 


Kelima Ncuhi ini hidup berdampingan secara damai, saling hormat menghormati dan selalu mengadakan musyawarah mufakat bila ada sesuatu yang menyangkut Profil Kabupaten Bima tahun 2008 2 kepentingan bersama. Dari kelima Ncuhi tersebut, yang bertindak selaku pemimpin dari Ncuhi lainnya adalah Ncuhi Dara. Pada masa-masa berikutnya, para Ncuhi ini dipersatukan oleh seorang utusan yang berasal dari Jawa. Menurut legenda yang dipercaya secara turun temurun oleh masyarakat Bima. Cikal bakal Kerajaan Bima adalah Maharaja Pandu Dewata yang mempunyai 5 orang putra yaitu : 

1. Darmawangsa 

2. Sang Bima 

3. Sang Arjuna 

4. Sang Kula 

5. Sang Dewa. 


Salah seorang dari lima bersaudara ini yakni Sang Bima berlayar ke arah timur dan mendarat disebuah pulau kecil disebelah utara Kecamatan Sanggar yang bernama Satonda. Sang Bima inilah yang mempersatukan kelima Ncuhi dalam satu kerajaan yakni Kerajaan Bima, dan Sang Bima sebagai raja pertama bergelar Sangaji. Sejak saat itulah Bima menjadi sebuah kerajaan yang berdasarkan Hadat, dan saat itu pulalah Hadat Kerajaan Bima ditetapkan berlaku bagi seluruh rakyat tanpa kecuali. Hadat ini berlaku terus menerus dan mengalami perubahan pada masa pemerintahan raja Ma Wa’a Bilmana. Setelah menanamkan sendi-sendi dasar pemerintahan berdasarkan Hadat, Sang Bima meninggalkan Kerajaan Bima menuju timur, tahta kerajaan selanjutnya diserahkan kepada Ncuhi Dara hingga putra Sang Bima yang bernama Indra Zamrud sebagai pewaris tahta datang kembali ke Bima pada abad XIV/ XV. 



Beberapa perubahan Pemerintahan yang semula berdasarkan Hadat ketika pemerintahan Raja Ma Wa’a Bilmana adalah : 
- Istilah Tureli Nggampo diganti dengan istilah Raja Bicara. 
- Tahta Kerajaan yang seharusnya diduduki oleh garis lurus keturunan raja sempat diduduki oleh yang bukan garis lurus keturunan raja. 

Perubahan yang melanggar Hadat ini terjadi dengan diangkatnya adik kandung Raja Ma Wa’a Bilmana yaitu Manggampo Donggo yang menjabat Raja Bicara untuk menduduki tahta kerajaan. Pada saat pengukuhan Manggampo Donggo sebagai raja dilakukan dengan sumpah bahwa keturunannya tetap sebagai Raja sementara keturunan Raja Ma Wa’a Bilmana sebagai Raja Bicara. Kebijaksanaan ini dilakukan Raja Ma Wa’a Bilmana karena keadaan rakyat pada saat itu sangat memprihatinkan, kemiskinan merajalela, perampokan dimana-mana sehingga rakyat sangat menderita. Keadaan yang memprihatinkan ini hanya bisa di atasi oleh Raja Bicara. Akan tetapi karena berbagai kekacauan tersebut tidak mampu juga diatasi oleh Manggampo Donggo akhirnya tahta kerajaan kembali di ambil alih oleh Raja Ma Wa’a Bilmana. Kira-kira pada awal abad ke XVI Kerajaan Bima mendapat pengaruh Islam dengan raja pertamanya Sultan Abdul Kahir yang penobatannya tanggal 5 Juli tahun 1640 M. Pada masa ini susunan dan penyelenggaraan pemerintahan disesuaikan dengan tata pemerintahan Kerajaan Goa yang memberi pengaruh besar terhadap masuknya Agama Islam di Bima. Gelar Ncuhi diganti menjadi Galarang (Kepala Desa). Struktur Pemerintahan diganti berdasarkan Majelis Hadat yang terdiri atas unsur Hadat, unsur Sara dan Majelis Hukum yang mengemban tugas pelaksanaan hukum Islam. Dalam penyelenggaraan pemerintahan ini Sultan dibantu Oleh : 1. Majelis Tureli ( Dewan Menteri ) yang terdiri dari Tureli Bolo, Woha, Belo, Sakuru, Parado dan Tureli Donggo yang dipimpin oleh Tureli Nggampo/ Raja Bicara. 2. Majelis Hadat yang dikepalai oleh Kepala Hadat yang bergelar Bumi Lumah Rasa NaE dibantu oleh Bumi Lumah Bolo. Majelis Hadat ini beranggotakan 12 orang dan merupakan wakil rakyat yang menggantikan hak Ncuhi untuk mengangkat/ melantik atau memberhentikan Sultan. 3. Majelis Agama dikepalai oleh seorang Qadhi ( Imam Kerajaan ) yang beranggotakan 4 orang Khotib Pusat yang dibantu oleh 17 orang Lebe Na’E.
Seiring dengan perjalanan waktu, Kabupaten Bima juga mengalami perkembangan kearah yang lebih maju. Dengan adanya kewenangan otonomi yang luas dan bertanggungjawab yang diberikan oleh pemerintah pusat dalam bingkai otonomi daerah sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang (UU) No. 22 tahun 1999 dan direvisi menjadi UU No. 33 tahun 2004, Kabuapten Bima telah memanfaatakan kewenangan itu dengan Profil Kabupaten Bima tahun 2008 3 terus menggali potensi-potensi daerah baik potensi sumberdaya manusia maupun sumberdaya alam agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mempercepat pertumbuhan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 


Untuk memenuhi tuntutan dan meningkatkan pelayanan pada masyarakat, Kabupaten Bima telah mengalami beberapa kali pemekaran wilayah mulai tingkat dusun, desa, kecamatan, dan bahkan dimekarkan menjadi Kota Bima pada tahun 2001. Hal ini dilakukan tidak hanya untuk memenuhi semakin meningkatkan tuntutan untuk mendekatkan pelayanan pada masyarakat yang terus berkembang dari tahun ke tahun tetapi juga karena adanya daya dukung wilayah. Sejarah telah mencatat bahwa Kabuapten Bima sebelum otonomi daerah hanya terdiri dari 10 kecamatan, kemudian setelah otonomi daerah kecamatan sebagai pusat ibukota Kabupaten Bima dimekarkan menjadi Kota Bima, dan Kabupaten Bima memekarkan beberapa wilayah kecamatannya menjadi 14 kecamatan dan pada tahun 2006 dimekarkan lagi menjadi 18 kecamatan dengan pusat ibukota kabupaten Bima yang baru dipusatkan di Kecamatan Woha. (Bappeda Kab. Bima)


Hubungan Darah Bima-Bugis-Makassar
Arus modernisasi dan demokratisasi disegala bidang kehidupan telah mempengaruhi cara pandang dan cara berpikir seluruh element masyarakat. Hubungan keakrabatan antar etnis dan bahkan hubungan darah sekalipun terpisahkan oleh tembok modernisasi dan demokrasi hari ini. Hubungan keakrabatan dan kekeluargaan yang terjalin selama kurun waktu 1625 – 1819 (194 tahun) pun terputus hingga hari ini. Hubungan kekeluargaan antara dua kesultanan besar dikawasan Timur Indonesia yaitu Kesultanan Gowa dan Kesultanan Bima terjalin sampai pada turunan yang ke- VII. Hubungan ini merupakan perkawinan silang antara Putra Mahkota Kesultanan Bima dan Putri Mahkota Kesultanan Gowa terjalin sampai turunan ke- VI. Sedangkan yang ke- VII adalah pernikahan Putri Mahkota Kesultanan Bima dan Putra Mahkota Kesultanan Gowa. Berikut urutan pernikahan dari silsilah kedua kerajaan ini :

  1. Sultan Abdul Kahir (Sultan Bima I) menikah dengan Daeng Sikontu, Putri Karaeng Kasuarang, yang merupakan adik iparnya Sultan Alauddin pada tahun 1625. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Abil Khair (Sultan Bima ke-II)
  2. Sultan Abil Khair (Sultan Bima ke- II) menikah dengan Karaeng Bonto Je'ne. Adalah adik kandung Sultan Hasanuddin, Gowa pada tanggal 13 April 1646. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Nuruddin (Sultan Bima ke-III) pada tahun 1651.
  3. Sultan Nuruddin (Sultan Bima ke-III) menikah dengan Daeng Ta Memang anaknya Raja Tallo pada tanggal 7 mei 1684. dari pernikahan tersebut melahirkan Sultan Jamaluddin (Sultan Bima ke-IV)
  4. Sultan Jamaluddin (Sultan Bima ke IV) menikah dengan Fatimah Karaeng Tanatana yang merupakan putri Karaeng Bessei pada tanggal 8 Agustus 1693. dari pernikan tersebut melahirkan Sultan Hasanuddin (sultan Bima ke- V).
  5. Sultan Hasanuddin (Sultan Bima ke- V) menikah dengan Karaeng Bissa Mpole anaknya Karaeng Parang Bone dengan Karaeng Bonto Mate'ne, pada tanggal 12 september 1704. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Alaudin Muhammad Syah pada tahun 1707 (Sultan Bima ke- VI)
  6. Sultan Alaudin Muhammad Syah (Sultan Bima ke- VI) menikah dengan Karaeng Tana Sanga Mamonca Raji putrinya sultan Gowa yaitu Sultan Sirajuddin pada tahun 1727. pernikahan ini melahirkan Kumala Bumi Pertiga dan Abdul Kadim yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- VII pada tahun 1747. ketika itu beliau baru berumur 13 tahun. Kumala Bumi Pertiga putrinya Sultan Alauddin Muhammad Syah dengan Karaeng Tana Sanga Mamonca Raji ini kemudian menikah dengan Abdul Kudus Putra Sultan Gowa pada tahun 1747. dan dari pernikahan ini melahirkan Amas Madina Batara Gowa ke-II. Sementara Sultan Abdul Kadim yang lahir pada tahun 1729 dari pernikahan dari pernikahannya melahirkan Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII). Sultan Abdul Hamid (La Hami) dilahirkan pada tahun 1762 kemudian diangkat menjadi sultan Bima tahun 1773.
  7. Sultan Abdul Kadim (Sultan Bima ke- VII) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- mohon Maaf) melahirkan Sultan Abdul Hamid pada tahun 1762 dan Sultan Abdul Hamid diangkat menjadi Sultan Bima ke- VIII pada tahun 1773.
  8. Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- Mohon Maaf) melahirkan Sultan Ismail pada tahun 1795. ketika sultan Abdul Hamid meninggal dunia pada tahun 1819, pada tahun ini juga Sultan Ismail diangkat menjadi Sultan Bima ke- IX
  9. Sultan Ismail (Sultan Bima ke- IX) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- Mohon Maaf) melahirkan sultan Abdullah pada tahun 1827
  10. Sultan Abdullah (Sultan Bima ke- X) menikah dengan Sitti Saleha Bumi Pertiga, putrinya Tureli Belo. Dari pernikahan ini abdul Aziz dan Sultan Ibrahim.
  11. Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) dari pernikahannya melahirkan Sultan Salahuddin yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- XII pada tahun 1888 dan memimpin kesultanan hingga tahun 1917.
  12. Sultan Salahuddin (Sultan Bima ke- XII) sebagai Sultan Bima terakhir dari pernikahannya melahirkan Abdul Kahir II (Ama Ka'u Kahi) yang biasa dipanggil dengan Putra Kahi dan St Maryam Rahman (Ina Ka'u Mari). Putra Kahir ini kemudian Menikah dengan Putri dari Keturunan Raja Banten (Saudari Kandung Bapak Ekky Syachruddin) dan dari pernikahannya melahirkan Bapak Fery Zulkarnaen


Adalah sangat Ironi memang jika pada hari ini generasi baru dari kedua Kesultanan Besar ini kemudian tidak saling kenal satu sama lain. Bahkan pada zaman kerajaan, pertumbuhan dan perkembangan penduduk Gowa dan Bima merupakan Etnis yang tidak bisa dipisahkan dan bahkan masyarakat Gowa pada umumnya tidak bisa dipisahkan dengan Etnis Bima (Mbojo) sebagai salah satu Etnis terpenting dalam perkembangan kekuatan kerajaan Gowa. Dari catatan sejarah yang dapat dikumpulkan dan dianalisa, hubungan kekeluargaan antara kedua kesultanan tersebut berjalan sampai pada keturunan ke- IX dari masing-masing kesultanan, dan jika dihitung hal ini berjalan selama 194 tahun. Dari data yang berhasil dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa hubungan kesultanan Bima dan Gowa dengan pendekatan kekeluargaan (Darah) terjalin sampai pada tahun 1819. Analisa ini berawal dari pemikiran bahwa ada hubungan darah yang masih dekat antara Amas Madina Batara Gowa Ke- II anaknya Kumala Bumi Pertiga dengan Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII). Karena keduanya masih merupakan saudara sepupu satu kali. Bahkan ada kemungkinan yang lebih lama lagi hubungan ini terjalin. Yaitu ketika Sultan Abdul Hamid meninggal pada tahun 1819 dan pada tahun itu juga langsung digantikan oleh putra mahkotanya yaitu Sultan Ismail sebagai sultan Bima ke- IX. Karena Sultan Ismail ini kalau dilihat keturunannya masih merupakan kemenakan langsungnya Amas Madina Batara Gowa Ke- II, jadi hubungan ini ternyata berjalan kurang lebih 194 tahun.

Pada beberapa catatan yang kami temukan, bahwa pernikahan Salah satu Keturunan Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) masih terjadi dengan keturunan Sultan Gowa. Sebab pada tahun 1900 (pada kepemimpinan Sultan Ibrahim), terjadi acara melamar oleh Kesultanan Bima ke Kesultanan Gowa. Mahar pada lamaran tersebut adalah Tanah Manggarai. Sebab Manggarai dikuasai oleh kesultanan Bima sejak abad 17. Namun, pada catatan sejarah tersebut tidak tercatat secara jelas.
(dari berbagai sumber)

Garuda Bertengger di Kostum Timnas, Logo PSSI ke Mana?

 Prestasi Tim Nasional (Timnas) Sepakbola Indonesia sedang berada di puncak. Setelah melumat Malaysia, Laos pun dibungkam. Thailand juga dibuat pulang kampung. Kini, timnas akan berhadapan dengan Filipina di semifinal AFF Suzuki Cup 2010.

Di balik ketanguhan timnas, lambang negara Garuda Pancasila nampak gagah nangkring di dada para pemain. Lambang di baju berwarna merah ini seakan membuat spirit tersendiri bagi pemain untuk menggulung lawan-lawannya.

Namun, lambang negara di baju timnas ini ternyata tidak begitu lazim dalam kancah internasional. Lihat saja baju timnas berbagai negara besar. Argentina dengan logo federasi sepakbola di bajunya (AFA), Jerman dengan logo DFB, Prancis dengan logo FFF, Inggris dengan logo FA, Italia dengan logo FIGC atau Brasil dengan logo CBF. Ketidaklaziman ini sempat ramai di situs jejaring sosial.

"Saya ikut menyayangkan mengapa ada gambar Garuda di Timnas. Penggunaan Lambang Negara Garuda di kostum kesebelasan Timnas Indonesia telah melanggar Undang-Undang No 24/2009 Tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara dan lagu Kebangsaan," kata penggemar Timnas yang juga pengacara publik, David Tobing, saat berbincang dengan detikcom, Senin  (13/12/2010).

David mencontohkan saat celana renang tim polo air Singapura pada Asian Games yang ada bulan dan bintangnya langsung diprotes pemerintah Singapura karena dinilai kurang pantas. 

"Kaos bola berpotensi dikotori, robek, dan bahkan terkena tendang, terkena sikut, dilempar setelah dipakai. Dan harus diingat lambang negara yang ada di kaos bola pun akan mengalami hal yang sama," alasan David. Namun meski David menyayangkan pemakaian logo Garuda ini, tapi bukan berarti tidak mencintai Timnas.

Berbeda dengan David, berbeda pula dengan Roy Suryo. Menurut anggota DPR yang juga menjadi tim revisi UU Undang-Undang No 24/2009, menilai pemakaian lambang negara ini sah-sah saja sepanjang niatnya untuk membangkitkan harga diri bangsa. 

"Memang benar, kalau negara lain menggunakan logo federasinya. Tapi saya kira kita tidak ada masalah. Apalagi timnas saat ini lagi bagus-bagusnya. Saya kira tidak ada masalah dengan logo Garuda ini," tutur Roy Suryo yang pernah menggugat Dewa 19 karena menempelkan logo Dewa 19 di bendera negara.

Kaos Timnas disponsori oleh Nike. Kaos berwarna merah itu memakai logo Garuda Pancasila di dada kiri dan gambar besar Garuda Pancasila yang menerawang besar di semua bagian depan kaos. Di dada kanan terdapat logo Nike. Prabrikan itu menyebut kaos itu ramah lingkungan, tiap kaos berbahan poliester yang mendaur-ulang 8 botol plastik.
(asp/nrl)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More